content dev
28 September 2026, 14:25 WIB
Perbandingan antara dana tertokenisasi dan stablecoin naik menjadi $11,39 untuk setiap $100 stablecoin, hampir empat kali lipat dalam dua tahun terakhir. Angka ini kecil kelihatannya, tapi arahnya yang menarik: uang yang selama ini hanya diam sebagai stablecoin mulai bergeser ke instrumen yang bisa memberi imbal hasil.
Intinya satu hal: pemilik aset kripto makin tidak puas hanya "memarkir" dana. Stablecoin dirancang untuk menjaga nilai tetap stabil, jadi ia praktis seperti uang tunai digital — aman dari gejolak harga, tapi diam saja tidak menghasilkan apa-apa. Dana tertokenisasi bekerja beda: ia mewakili kepemilikan atas aset yang memang menghasilkan, sehingga pemegangnya bisa memperoleh imbal hasil sambil tetap berada di jaringan blockchain. Ketika selisih imbal hasil itu terasa, sebagian uang wajar berpindah dari yang diam ke yang menghasilkan. Itulah yang tercermin dari rasio yang terus naik.
Pergeseran ini pelan-pelan bisa mengubah peran stablecoin dalam ekosistem kripto — dari tempat menyimpan nilai menjadi sekadar pintu masuk sebelum uang dialihkan ke instrumen berimbal hasil. Namun perlu dijaga agar tidak dibaca berlebihan: rasionya masih di kisaran belasan dolar per seratus, jadi stablecoin tetap jauh lebih besar porsinya. Yang layak diperhatikan ke depan adalah apakah tren ini terus berlanjut atau melambat, karena minat mengejar imbal hasil biasanya ikut naik-turun mengikuti kondisi pasar dan tingkat suku bunga yang lebih luas.