content dev
28 September 2026, 09:18 WIB
Penambangan mata uang kripto di Iran diperkirakan menyedot 930 hingga 1.200 megawatt listrik, setara sekitar 14% dari defisit listrik bulanan negara itu saat permintaan memuncak di musim panas — beban tambahan bagi jaringan yang sudah tegang.
Inti persoalannya sederhana: menambang kripto berarti membiarkan banyak komputer bekerja nonstop untuk menyelesaikan perhitungan demi mendapatkan koin baru. Makin banyak mesin yang dinyalakan, makin besar listrik yang ditarik, dan mesin-mesin itu praktis tidak pernah istirahat. Karena listrik di Iran relatif murah, aktivitas ini tumbuh subur. Masalahnya terasa di musim panas, ketika permintaan listrik rumah tangga melonjak dan pasokan tak lagi cukup — di titik itulah tarikan besar dari tambang paling terasa.
Secara angka, tambang memakai sekitar 700 juta kilowatt-jam listrik tiap bulan, dibanding rata-rata defisit sekitar 5 miliar kilowatt-jam saat permintaan puncak. Kalau dilihat sepanjang empat bulan musim hangat, porsinya lebih kecil, sekitar 6% dari total ketimpangan pasokan.
Memenuhi kebutuhan itu tidak murah. Menyuplai beban tambang lewat pembangkit termal diperkirakan butuh sekitar 8,46 miliar kilowatt-jam listrik per tahun dan bahan bakar setara 2,1 miliar meter kubik gas. Dengan harga impor solar minimal 70 sen dolar AS per liter, beban bahan bakarnya saja bisa mencapai sekitar $1,5 miliar setahun — belum menghitung biaya konversi listrik dan potensi ekonomi yang hilang. Sebagai gambaran lain, jika permintaan dari tambang dihapus, porsi jam-jam musim panas yang bebas defisit diperkirakan bisa naik dari 5,2% menjadi 33,6%.
Tapi di sinilah pentingnya berhati-hati membaca angka. Perhitungan ini sulit karena penambang tak resmi bisa menyembunyikan alat dan menarik listrik di luar catatan resmi. Beberapa metode dipakai untuk memperkirakan, dan hasilnya tidak membuktikan bahwa tambang adalah penyebab utama defisit listrik Iran. Satu perkiraan lain, yang bersandar pada pemadaman internet nasional, mencatat penurunan beban dasar jaringan sebesar 927 megawatt dalam satu pengukuran semalam — namun angka itu bisa juga mencakup pusat data dan infrastruktur digital lain, jadi tak bisa sepenuhnya dianggap berasal dari tambang kripto.
Perkiraan-perkiraan terbaru ini bahkan lebih rendah dari penilaian sebelumnya. Seorang pejabat Tavanir, Mohammad Allahdad, pernah menyebut konsumsi tambang mendekati 2.000 megawatt dan porsinya terhadap defisit bisa sampai 20%. “Meski ini sekitar 5% dari total konsumsi listrik, angkanya mencapai 20% dari defisit saat ini,” katanya. Selisih perkiraan itu sendiri adalah bagian dari cerita: tanpa data yang pasti, ukuran sebenarnya dari masalah ini masih diperdebatkan.
Bagi yang mengikuti pasar kripto, kabar ini menegaskan satu pola yang terus berulang — tarik-menarik antara listrik murah yang memancing aktivitas tambang dan tekanan pada jaringan nasional yang mengundang campur tangan aturan. Negara lain menempuh jalan berbeda; Kazakhstan, misalnya, menyiapkan kerangka untuk memakai sumber dari ladang minyak dan gas guna memasok listrik tambang secara terpisah dari jaringan nasional. Arah kebijakan seperti inilah yang layak diikuti, karena bisa memengaruhi di mana dan seberapa besar aktivitas menambang berlangsung ke depan.