content dev


Kripto Tertinggal dari Saham AS Sejak 2017, dengan Risiko Tiga Kali Lipat

28 September 2026, 14:25 WIB


Sebuah indeks yang mengukur 100 aset kripto terbesar — sekitar dua pertiganya adalah Bitcoin — praktis berjalan di tempat sejak 2017, sementara indeks saham teknologi AS, Nasdaq 100, justru terus menanjak pada rentang waktu yang sama. Perbandingan sederhana ini jadi inti argumen seorang analis senior, Mike McGlone: dilihat dari kacamata risiko dan pengelolaan portofolio, kripto selama ini menuntut risiko jauh lebih besar tanpa memberi hasil yang sepadan.

Angkanya yang membuat ceritanya tajam. Indeks kripto tadi rata-rata bergerak sekitar tiga kali lebih liar dibanding Nasdaq 100 — artinya naik-turun harganya kira-kira tiga kali lebih besar. Dalam investasi, gejolak sebesar itu biasanya "dibayar" dengan imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi. Yang terjadi justru sebaliknya: risikonya berlipat, tapi hasilnya malah tertinggal dari saham.

Ada satu hal lagi yang sering disalahpahami soal kripto. Banyak orang memegangnya dengan harapan ia bisa jadi penyeimbang — sesuatu yang naik saat saham jatuh, sehingga isi portofolio tidak babak belur bersamaan. Kenyataannya, kata McGlone, indeks kripto ini bergerak searah dengan saham: saat pasar saham turun, kripto cenderung ikut turun. Padahal gunanya menaruh beberapa jenis aset yang berbeda adalah supaya ketika satu anjlok, yang lain bisa menahan. Kalau semuanya bergerak ke arah yang sama, manfaat saling menutup itu hilang.

McGlone menautkan titik baliknya ke tahun 2017, saat kontrak berjangka Bitcoin pertama kali muncul dan menandai masuknya kripto ke arus utama keuangan. Sebelum itu kripto sempat mengungguli Nasdaq 100; sesudahnya, keunggulan tersebut memudar. Ia juga menyebut gelombang pencatatan ETF di AS dan perubahan sikap Donald Trump menjelang pemilu 2024 bisa jadi menandai puncak kripto — momen ketika perhatian terhadapnya paling ramai.

Yang perlu dicatat, ini adalah pembacaan satu analis atas apa yang sudah terjadi, bukan ramalan yang pasti. McGlone sendiri menilai keadaan ini sulit berubah, tetapi pola seperti tingkat gejolak dan seberapa searah kripto dengan saham bukanlah hal yang permanen — keduanya bisa bergeser seiring waktu. Justru dari sanalah sinyal perubahan akan terlihat: bila suatu saat kripto bergerak lebih tenang, atau mulai melepaskan diri dari arah pasar saham dan berjalan sendiri. Selama keduanya masih bergerak seperti sekarang, argumen bahwa kripto adalah aset yang mahal risikonya tetap punya dasar.


Hubungi Marketing Kami Disini!

WhatsApp Icon